Bayangan Tuan.
-inspiring by kasus di Infotaiment-
Juni masih dengan daun gugur,
Mengajak malaikat mereguk nikmat khamar
Membuainya, menyapa Tuan di sudut Kamar.
Sadari murka Tuhan, Ia terpekur.
Angin mengajak debu jalanan menari,
Sebuah bayangan menatap dengan iri
Dirinya bertali, tuannya dan matahari
ia berputar bersama matahari, tuannya berdiam diri
“Tuan yang berambut panjang, poni mu tlah angin ajak menari, matahari dan akupun akan tinggalkanmu hari ini, sudikah kau berdiri sekarang? Ajak aku menari lagi, esok, di hari yang cerah,,,”
Tuan masih berdiam, meramal masa depan.
Rabu, 23 Juni 2010
Senin, 01 Maret 2010
Cerita menguras: Arogansi dan 'maaf'
sebuah masalah menghampiri saya kali ini,
yeah ini soal harga diri,
entah lah,
saya yang terlalu sensitif atau memang ini adalah sebuah hinaan,
saat dipanggil dengan tak pantas, saat tertiindas oleh sebuah arogan.
uuuhhh...
tapi satu hal yang teringat,
"yang sadar, ngalah!"
oke, saya menahan diri untuk bertindakk emosi, dengan menganggap 'memang seperti itulah karakternya'
tapi...
emosi itu sampai juga pada batasnya,
saya marah dan meledak!
parahnya,
saya marah malah balik dimarahin, disentakin,,
sampai pernyataan arogannya keluar,
bukan, bukan tentang saya, tapi tentang lembaga yang saya kagumi, tentang semua yang berkorban untuk lembaga,
yeah, saya akui, dia hebat, lembaga itu butuh orang seperti dia.
tapi,
Arogan,
Yaa Allah, bisakah Ia mengerti dan lebih baik?
atau saya yang harus mengerti dan lebih baik?
at least,
Saya minta maaf, walau saya masih berfikir 'sepenuhnya kah salah saya?'
tapi apalah sebuah keegoisan, jika saya tak minta maaf, saya tak beda jauh dengannya.
saya ajak bicara, baik-baik dan dewasa a la mahasiswa,
saya tunggu. saya tunggu.
tapi kehadirannya membuat saya kecewa dan menyesal minta maaf.
haruskah?
satu pelajaran lagi untuk saya:
jangan pernah menilai seseorang kalau kita tak yakin kenal.
satu pertanyaan diri untuk diri saya:
minta maaf apakah bentuk melecehkan diri sendiri?
Yaa Allah, Bukakanlah pintu hatinya atau bukakanlah pintu hati saya untuk mengerti.
yeah ini soal harga diri,
entah lah,
saya yang terlalu sensitif atau memang ini adalah sebuah hinaan,
saat dipanggil dengan tak pantas, saat tertiindas oleh sebuah arogan.
uuuhhh...
tapi satu hal yang teringat,
"yang sadar, ngalah!"
oke, saya menahan diri untuk bertindakk emosi, dengan menganggap 'memang seperti itulah karakternya'
tapi...
emosi itu sampai juga pada batasnya,
saya marah dan meledak!
parahnya,
saya marah malah balik dimarahin, disentakin,,
sampai pernyataan arogannya keluar,
bukan, bukan tentang saya, tapi tentang lembaga yang saya kagumi, tentang semua yang berkorban untuk lembaga,
yeah, saya akui, dia hebat, lembaga itu butuh orang seperti dia.
tapi,
Arogan,
Yaa Allah, bisakah Ia mengerti dan lebih baik?
atau saya yang harus mengerti dan lebih baik?
at least,
Saya minta maaf, walau saya masih berfikir 'sepenuhnya kah salah saya?'
tapi apalah sebuah keegoisan, jika saya tak minta maaf, saya tak beda jauh dengannya.
saya ajak bicara, baik-baik dan dewasa a la mahasiswa,
saya tunggu. saya tunggu.
tapi kehadirannya membuat saya kecewa dan menyesal minta maaf.
haruskah?
satu pelajaran lagi untuk saya:
jangan pernah menilai seseorang kalau kita tak yakin kenal.
satu pertanyaan diri untuk diri saya:
minta maaf apakah bentuk melecehkan diri sendiri?
Yaa Allah, Bukakanlah pintu hatinya atau bukakanlah pintu hati saya untuk mengerti.
Jumat, 05 Februari 2010
Sensitive: Saya dan Penguasa
Bilqis anak yang berumur 17 bulan menderita gangguann fungsi hati menjadi sorotan berita di awal febuari, yang katanya bulan penuh kasih. Matanya kuning, badannya kurus membuat iba saya yang melihatnya di layer kaca, membuat bersyukur karena saya sehat. Hariska, bocah penggemar ST 12 yang melukai dirinya sendiri, terpaksa dipasung orang tuanya. Wajahnya pucat, tulang yang terbungkus kulit begitu membuat saya malu kareana sering mengeluh terlalu kurus.
Belum selesai Bilqis, ada bocah yang senasib dengannya, Putra. Mereka memang tidak beruntung, tapi lebih beruntung dari anak yang seperti mereka dan tidak mendapat perhatian media massa. Ada berapa anak lagi yang menderita di Negara ini? Yang tidak bisa berobat dengan alas an klise tapi benar adanya: Biaya.
Kerbau Sibuya, menjadi tokoh public baru kali ini. Ia diarak pendemo akhir Januari lalu. Kehadirannya di bundaran HI tempo itu menjadi perhatian Penguasa negeri ini. Dengan jelas sang Penguasa manggambarkan dirinya sama dengan kerbau itu sebagai orang berbadan baesar, malas dan bodoh. Saya, tanpa mengerti apa tujuan sebenarnya dari pendemo itu hanya bisa merenggut. Segitu buruknya sifat kerbau? Bukannya Ia juga membantu petani dalam mengolah sawah. Dan kenapa harus merasa sama? Kenapa sang penguasa berfikir seperti itu? Dan kenapa mengatakan itu di depan media. Jendela Rakyatnya. Jika Penguasa sangat berkepentingan dengan etika pendemo Yang baik dan buruk. Hitam dan putih. Seperti apa?
Sepertinya saya dan penguasa sama-sama perasa atau sensitive. Saya juga akan sedih dan kecewa apabila saya disamakan dengan binatang apapun itu, kecuali kucing, saya merasa kucing itu imut.
Tapi apa penguasa juga merasakan hal yang sama seperti saya saat melihat Bilqis, Hariska, Putra?
Sedih mendengar anak-anak sekampung di Banten menderita lumpuh layu?
Kecewa saat orang tua meninggalkan ketiga balitanya di kamar kontrakan tanpa makanan?
Marah saat masalah korupsi tak juga berujung?
Yang jelas saya kecewa karena pada kenyataannya saya hanya bisa berbuat sedikit, sedikit sekali atau bahkan tidak ada untuk mereka.
Dan kecewa karena penguasa akan membeli sebuah pesawat, membangun pagar dan menaikkan gaji para pembantunya. Kecewa karena Ia punya kekuatan yang sangat besar untuk merubah ini, tapi memilih ‘saya tidak tahu’
Etika. Etika. Etika.
Orang baik itu katanya beretika. Orang baik itu katanya amanah.
Siapa yang beretika? Siapa yang baik?
Sensitive. Sensitive. Sensitive.
Orang yang sensitive itu katanya peduli. Masalahnya, peduli sama siapa?
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q:S An-Nisa: 58)
Belum selesai Bilqis, ada bocah yang senasib dengannya, Putra. Mereka memang tidak beruntung, tapi lebih beruntung dari anak yang seperti mereka dan tidak mendapat perhatian media massa. Ada berapa anak lagi yang menderita di Negara ini? Yang tidak bisa berobat dengan alas an klise tapi benar adanya: Biaya.
Kerbau Sibuya, menjadi tokoh public baru kali ini. Ia diarak pendemo akhir Januari lalu. Kehadirannya di bundaran HI tempo itu menjadi perhatian Penguasa negeri ini. Dengan jelas sang Penguasa manggambarkan dirinya sama dengan kerbau itu sebagai orang berbadan baesar, malas dan bodoh. Saya, tanpa mengerti apa tujuan sebenarnya dari pendemo itu hanya bisa merenggut. Segitu buruknya sifat kerbau? Bukannya Ia juga membantu petani dalam mengolah sawah. Dan kenapa harus merasa sama? Kenapa sang penguasa berfikir seperti itu? Dan kenapa mengatakan itu di depan media. Jendela Rakyatnya. Jika Penguasa sangat berkepentingan dengan etika pendemo Yang baik dan buruk. Hitam dan putih. Seperti apa?
Sepertinya saya dan penguasa sama-sama perasa atau sensitive. Saya juga akan sedih dan kecewa apabila saya disamakan dengan binatang apapun itu, kecuali kucing, saya merasa kucing itu imut.
Tapi apa penguasa juga merasakan hal yang sama seperti saya saat melihat Bilqis, Hariska, Putra?
Sedih mendengar anak-anak sekampung di Banten menderita lumpuh layu?
Kecewa saat orang tua meninggalkan ketiga balitanya di kamar kontrakan tanpa makanan?
Marah saat masalah korupsi tak juga berujung?
Yang jelas saya kecewa karena pada kenyataannya saya hanya bisa berbuat sedikit, sedikit sekali atau bahkan tidak ada untuk mereka.
Dan kecewa karena penguasa akan membeli sebuah pesawat, membangun pagar dan menaikkan gaji para pembantunya. Kecewa karena Ia punya kekuatan yang sangat besar untuk merubah ini, tapi memilih ‘saya tidak tahu’
Etika. Etika. Etika.
Orang baik itu katanya beretika. Orang baik itu katanya amanah.
Siapa yang beretika? Siapa yang baik?
Sensitive. Sensitive. Sensitive.
Orang yang sensitive itu katanya peduli. Masalahnya, peduli sama siapa?
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q:S An-Nisa: 58)
Senin, 25 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)