Senin, 01 Maret 2010

Cerita menguras: Arogansi dan 'maaf'

sebuah masalah menghampiri saya kali ini,
yeah ini soal harga diri,
entah lah,
saya yang terlalu sensitif atau memang ini adalah sebuah hinaan,
saat dipanggil dengan tak pantas, saat tertiindas oleh sebuah arogan.
uuuhhh...

tapi satu hal yang teringat,
"yang sadar, ngalah!"
oke, saya menahan diri untuk bertindakk emosi, dengan menganggap 'memang seperti itulah karakternya'
tapi...
emosi itu sampai juga pada batasnya,
saya marah dan meledak!
parahnya,
saya marah malah balik dimarahin, disentakin,,
sampai pernyataan arogannya keluar,
bukan, bukan tentang saya, tapi tentang lembaga yang saya kagumi, tentang semua yang berkorban untuk lembaga,
yeah, saya akui, dia hebat, lembaga itu butuh orang seperti dia.
tapi,
Arogan,
Yaa Allah, bisakah Ia mengerti dan lebih baik?
atau saya yang harus mengerti dan lebih baik?
at least,
Saya minta maaf, walau saya masih berfikir 'sepenuhnya kah salah saya?'
tapi apalah sebuah keegoisan, jika saya tak minta maaf, saya tak beda jauh dengannya.

saya ajak bicara, baik-baik dan dewasa a la mahasiswa,
saya tunggu. saya tunggu.
tapi kehadirannya membuat saya kecewa dan menyesal minta maaf.
haruskah?

satu pelajaran lagi untuk saya:
jangan pernah menilai seseorang kalau kita tak yakin kenal.
satu pertanyaan diri untuk diri saya:
minta maaf apakah bentuk melecehkan diri sendiri?

Yaa Allah, Bukakanlah pintu hatinya atau bukakanlah pintu hati saya untuk mengerti.